0812 1035 6374 [email protected]

Kurikulum Homeschooling di Indonesia: Aturan Resmi dan Praktik yang Umum

Pertanyaan “homeschooling pakai kurikulum apa?” sering mendapat dua jawaban yang sama-sama kurang lengkap. Ada yang mengatakan keluarga bebas memakai apa saja. Ada juga yang mengatakan semua homeschooler harus mengikuti kurikulum PKBM. Regulasi Indonesia sebenarnya berada di antara keduanya.

Sekolahrumah adalah pendidikan berbasis keluarga. Permendikbud Nomor 129 Tahun 2014 memberi keluarga ruang untuk memperluas dan memperdalam pembelajaran sesuai minat, potensi, dan kebutuhan anak. Pada saat yang sama, peraturan tersebut tetap meminta kurikulum sekolahrumah mengacu pada kurikulum nasional. Jika keluarga kemudian memilih Paket A, B, atau C melalui PKBM atau SKB, program kesetaraannya mengikuti struktur kurikulum pendidikan kesetaraan yang berlaku.

Jawaban Singkat: Fleksibel, Tetapi Tetap Ada Acuan Nasional

Pasal 7 Permendikbud Nomor 129 Tahun 2014 menyatakan kurikulum sekolahrumah mengacu pada kurikulum nasional. Kurikulum yang digunakan dapat berupa kurikulum pendidikan formal atau kurikulum pendidikan kesetaraan, kemudian diperluas atau diperdalam sesuai minat, potensi, dan kebutuhan peserta didik.

Regulasi itu juga mewajibkan pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, serta Bahasa Indonesia. Jadi kebebasan homeschooling berada pada cara keluarga menyusun, memperkaya, memperdalam, dan menjalankan pembelajaran. Kebebasan tersebut tidak berarti seluruh acuan nasional dapat diabaikan.

Homeschooling, PKBM, dan Paket A/B/C Adalah Tiga Hal yang Berbeda

Homeschooling atau sekolahrumah adalah proses pendidikan yang tanggung jawab utamanya berada pada orang tua atau keluarga. PKBM dan SKB merupakan satuan pendidikan nonformal. Paket A, Paket B, dan Paket C adalah program pendidikan kesetaraan.

Di masyarakat ketiganya sering disebut dengan satu kata “homeschooling”. Dalam praktik, seorang anak bisa belajar sehari-hari bersama keluarga, menggunakan tutor atau kelas online, lalu terdaftar sebagai peserta Paket B atau Paket C di PKBM. Cara belajarnya tetap sangat berbasis rumah, sedangkan rapor dan administrasi program kesetaraannya dikelola satuan pendidikan.

Penjelasan lebih lengkap ada di Pindah dari Sekolah Formal ke Homeschooling.

Apa yang Sebenarnya Diwajibkan Regulasi Sekolahrumah?

Permendikbud Nomor 129 Tahun 2014 masih berstatus berlaku. Selain mengatur bentuk sekolahrumah tunggal, majemuk, dan komunitas, regulasi tersebut mengatur pendaftaran serta rencana pembelajaran.

KetentuanMaknanya bagi keluarga
Kurikulum mengacu pada kurikulum nasionalKeluarga tetap memiliki acuan capaian nasional.
Dapat memakai kurikulum formal atau kesetaraanKeluarga mempunyai pilihan acuan, kemudian dapat memperluas atau memperdalam sesuai kebutuhan anak.
Agama, Pancasila/PKn, dan Bahasa Indonesia wajib diajarkanKetiga bidang ini tidak semestinya hilang dari rencana pendidikan sekolahrumah.
Sekolahrumah tunggal dan majemuk mendaftar ke dinas kabupaten/kotaDokumen yang diminta mencakup identitas, pernyataan tanggung jawab keluarga, dan program sekolahrumah yang sekurang-kurangnya memuat rencana pembelajaran.
Sekolahrumah komunitas memiliki ketentuan izin tersendiriRegulasi menempatkannya sebagai kelompok belajar yang memerlukan izin satuan pendidikan nonformal.

Karena itu, kalimat bahwa keluarga homeschooler tidak perlu berhubungan dengan Dinas Pendidikan sama sekali terlalu luas. Untuk sekolahrumah tunggal dan majemuk, Permendikbud 129/2014 memang memuat kewajiban pendaftaran ke dinas kabupaten/kota.

Lalu Mengapa di Lapangan Banyak Keluarga Berhubungan Langsung dengan PKBM?

Praktik di lapangan berkembang lebih beragam. Banyak keluarga memilih menggunakan PKBM sejak awal karena ingin administrasi jenjang, rapor, asesmen, dan ijazah pendidikan kesetaraan dikelola oleh satuan pendidikan. Dalam model seperti ini, keluarga tetap memegang peran besar dalam proses belajar sehari-hari, sementara PKBM menyediakan struktur akademik dan administrasi.

Beberapa PKBM yang secara terbuka menjelaskan model layanannya menunjukkan pola yang cukup serupa: ada model mandiri keluarga, model daring/tutorial, dan model komunitas dengan pertemuan terjadwal. Ada juga PKBM yang menggabungkan kelas langsung pada hari tertentu dengan belajar mandiri pada hari lain. Pola seperti ini cukup umum, meskipun setiap satuan pendidikan dapat merancang programnya berbeda.

Penting untuk membedakan bagian ini sebagai praktik layanan, bukan bunyi regulasi. Tidak ada satu pola operasional yang wajib dipakai seluruh keluarga homeschooler dan seluruh PKBM.

Jika Anak Terdaftar di Paket A, B, atau C, Kurikulum Apa yang Dipakai?

Program pendidikan kesetaraan mengikuti struktur kurikulum yang ditetapkan pemerintah. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 mengatur Paket A sebanyak 220 SKK, Paket B 115 SKK, dan Paket C 132 SKK.

Struktur ini memuat mata pelajaran dan/atau muatan wajib serta komponen pemberdayaan dan keterampilan. Pada Paket C Fase F juga tersedia pilihan mata pelajaran sesuai struktur kurikulum dan layanan satuan pendidikan.

ProgramJenjangTotal SKK
Paket ASetara SD220
Paket BSetara SMP115
Paket CSetara SMA132

Beban belajar dalam pendidikan kesetaraan dapat ditempuh melalui tatap muka, tutorial, belajar mandiri, atau kombinasi yang proporsional. Inilah salah satu alasan program kesetaraan cukup mudah dipadukan dengan pola belajar berbasis rumah.

Apakah Anak Harus Menggunakan Buku atau Modul PKBM Setiap Hari?

Tidak selalu. Ini lebih banyak ditentukan oleh desain program satuan pendidikan. Ada PKBM yang menjadikan modul nasional sebagai tulang punggung, ada yang menyediakan LMS dan tugas sendiri, dan ada yang memberi ruang lebih besar bagi keluarga menggunakan buku atau sumber belajar lain.

Yang tetap perlu dijaga adalah capaian pembelajaran program yang diikuti. Jika keluarga menggunakan buku Cambridge, Pearson, kursus coding, buku Charlotte Mason, kelas bahasa, atau sumber lain, bahan tersebut dapat menjadi bagian dari proses belajar sehari-hari. Satuan pendidikan tetap perlu memiliki cara untuk menilai capaian yang menjadi tanggung jawabnya.

Cambridge, Pearson, Montessori, Charlotte Mason, dan Unschooling: Kurikulum atau Pendekatan?

Istilah yang beredar di komunitas homeschooler sering bercampur. Cambridge atau Pearson lebih dekat dengan sistem atau sumber kurikulum akademik yang terstruktur. Montessori dan Charlotte Mason adalah pendekatan pendidikan yang memengaruhi pilihan bahan, ritme, dan cara belajar. Unschooling lebih dekat dengan filosofi pembelajaran yang sangat mengikuti minat dan pengalaman anak.

Keluarga dapat mengambil manfaat dari pendekatan tersebut sepanjang tetap memahami acuan pendidikan yang dipilihnya. Pada sekolahrumah, Permendikbud 129/2014 tetap meminta acuan kurikulum nasional. Pada Paket A/B/C, capaian dan struktur program kesetaraan tetap menjadi tanggung jawab satuan pendidikan.

Jadi penggunaan Cambridge atau pendekatan lain tidak otomatis menggantikan program kesetaraan. Dalam praktik, keduanya dapat berjalan berdampingan bila keluarga memang menginginkannya dan beban anak tetap realistis.

Pendekatan Eklektik Justru Sangat Umum di Lapangan

Banyak keluarga tidak menggunakan satu metode secara murni. Matematika dapat memakai buku yang sangat terstruktur, Bahasa Inggris menggunakan materi internasional, sains melalui eksperimen atau proyek, sementara membaca dan sejarah menggunakan living books. Cara seperti ini sering disebut pendekatan eklektik.

Pendekatan tersebut masuk akal karena kebutuhan anak tidak selalu sama pada semua mata pelajaran. Yang perlu dihindari adalah mengumpulkan terlalu banyak program sampai anak justru menghadapi dua atau tiga kurikulum penuh secara bersamaan.

Dalam praktik pendampingan, kesederhanaan sering lebih bertahan: tentukan capaian inti, pilih bahan utama, lalu tambahkan sumber lain hanya pada bidang yang memang membutuhkan pendalaman.

Bagaimana dengan Unschooling?

Unschooling memberi ruang sangat besar kepada minat dan aktivitas nyata anak. Keluarga yang menggunakan pendekatan ini tetap perlu memahami posisi hukumnya. Jika menjalankan sekolahrumah sesuai Permendikbud 129/2014, kurikulum tetap mengacu pada kurikulum nasional. Jika anak terdaftar di Paket A/B/C, satuan pendidikan tetap bertanggung jawab memastikan capaian program kesetaraan dinilai.

Karena itu, keluarga yang sangat child-led sebaiknya tidak menunggu akhir jenjang untuk memikirkan literasi, numerasi, Bahasa Indonesia, atau capaian lain yang diperlukan. Integrasi dapat dibuat secara lentur tanpa mengubah seluruh hari anak menjadi sekolah formal.

Belajar Mandiri di Rumah dan SKK

Dalam program pendidikan kesetaraan, belajar mandiri memang merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang diakui. Satu SKK dapat ditempuh melalui satu jam tatap muka, dua jam tutorial, tiga jam belajar mandiri, atau kombinasi yang proporsional sesuai struktur pendidikan kesetaraan.

Namun angka tersebut tidak berarti setiap aktivitas keluarga otomatis berubah menjadi SKK. Pencatatan beban belajar, pemetaan kurikulum, dan penilaian tetap berada dalam tata kelola satuan pendidikan. Orang tua perlu menanyakan sejak awal bagaimana aktivitas mandiri anak dicatat dalam program yang digunakan.

Baca Program Belajar di PKBM.

Apakah Portofolio Menentukan Kurikulum atau Kelas?

Portofolio sangat berguna untuk mendokumentasikan proyek, karya, proses, dan kemajuan anak. Fungsinya terutama membantu keluarga dan pendamping memahami perkembangan belajar.

Portofolio tidak perlu dijadikan pusat perencanaan kurikulum keluarga. Namun menurut Juknis Penempatan 2026, RPL adalah salah satu mekanisme penempatan dan dapat menggunakan bukti formal seperti ijazah/rapor maupun bukti lain termasuk portofolio sesuai mekanisme. Jika riwayat pembelajaran formal lengkap, tes penempatan tidak diperlukan. Jadi portofolio tidak otomatis menggantikan rapor, tetapi juga tidak tepat mengatakan RPL hanya mekanisme khusus yang terpisah dari rapor.

Baca versi terbaru Cara Membuat Portofolio Homeschooling.

Bagaimana Penilaian Dilakukan?

Pada sekolahrumah, Permendikbud 129/2014 mengatur bahwa penilaian dapat dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan formal atau nonformal, dan/atau pemerintah sesuai ketentuan. Pada peserta Paket A/B/C, penilaian hasil belajar dikelola satuan pendidikan melalui asesmen formatif dan sumatif.

TKA tidak menjadi penentu kelulusan dan tidak dapat disebut sebagai ujian yang menghasilkan ijazah. Sejak Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025, aturan Uji Kesetaraan lama telah dicabut. TKA adalah asesmen kemampuan akademik tersendiri, sedangkan kelulusan tetap ditetapkan oleh satuan pendidikan.

Baca TKA Pengganti Ujian Kesetaraan.

Kurikulum yang Umum Dijumpai pada Keluarga Homeschooler

PolaPraktik yang umumHal yang perlu dijaga
Nasional sebagai tulang punggungBuku/modul nasional atau kesetaraan digunakan sebagai bahan utama.Jaga ritme agar tidak berubah menjadi sekolah formal di rumah jika itu tidak cocok dengan anak.
Nasional + sumber internasionalMatematika/Inggris memakai Cambridge, Pearson, atau sumber serupa; bidang lain mengikuti nasional.Perhatikan beban ganda dan biaya.
Eklektik berbasis keluargaKombinasi buku, kursus, proyek, komunitas, tutor, dan sumber daring.Tetap punya arah serta cara melihat kemajuan anak.
Child-led/unschooling dengan acuan capaianAktivitas anak mengikuti minat, sementara orang tua menjaga capaian inti tetap terpantau.Jangan menunggu akhir jenjang untuk menemukan kesenjangan dasar.
PKBM-supported learningPKBM menyediakan modul, LMS, tutorial/kelas; keluarga mengatur porsi belajar mandiri di rumah.Pahami mana kewajiban program dan mana tambahan keluarga.

Kurikulum yang Digunakan di Flexi

Untuk peserta Paket A, B, dan C, Flexi menggunakan kurikulum pendidikan kesetaraan sebagai dasar program resmi. Pada beberapa program, Flexi juga menggunakan buku Cambridge/Pearson untuk penguatan Matematika dan Bahasa Inggris. Bahan tambahan tersebut digunakan untuk memperdalam kemampuan, sementara pencapaian program kesetaraan tetap harus dikelola sesuai struktur nasional.

Flexi juga menggunakan proyek, Individual Learning Plan, serta target personal untuk memberi ruang pada minat siswa. Bagian ini adalah desain pendidikan Flexi, bukan kewajiban dari pemerintah.

Catatan editor sebelum publikasi: pastikan penggunaan Cambridge/Pearson pada program yang disebut masih aktif pada tahun ajaran berjalan dan sesuaikan nama program bila ada perubahan.

Bagaimana Memilih Kurikulum yang Realistis?

Mulai dari tujuan pendidikan keluarga

Tentukan lebih dulu apa yang sedang dibutuhkan anak: fondasi akademik, pemulihan setelah sekolah formal, persiapan kuliah, keterampilan tertentu, atau kombinasi beberapa tujuan. Kurikulum seharusnya melayani tujuan tersebut.

Pilih satu tulang punggung

Menggunakan terlalu banyak paket lengkap hampir selalu menambah beban. Pilih satu sistem utama, lalu tambahkan bahan lain pada area yang memang memerlukan pendalaman.

Sesuaikan dengan kapasitas orang tua

Beberapa pendekatan membutuhkan keterlibatan orang tua yang tinggi. Jika kedua orang tua bekerja penuh, gunakan struktur yang dapat bertahan sepanjang tahun, bukan sistem ideal yang hanya berjalan dua minggu.

Lihat kebutuhan usia anak

Anak SD biasanya membutuhkan pendampingan dan kebiasaan belajar. Remaja SMP mulai bisa belajar mengatur sebagian tanggung jawab sendiri. Pada SMA, tujuan setelah lulus semakin memengaruhi pilihan mata pelajaran dan kedalaman materi.

Tinjau secara berkala

Kurikulum yang cocok pada usia delapan tahun belum tentu cocok pada usia empat belas tahun. Penyesuaian adalah hal yang wajar selama arah pendidikan dan kebutuhan administrasinya tetap terjaga.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apakah homeschooler bebas memakai kurikulum apa pun?

Keluarga memiliki ruang sangat luas memilih bahan dan pendekatan, tetapi sekolahrumah menurut Permendikbud 129/2014 tetap mengacu pada kurikulum nasional. Kurikulum formal atau kesetaraan dapat digunakan lalu diperluas atau diperdalam sesuai kebutuhan anak.

Apakah keluarga harus mendaftarkan kurikulumnya ke Dinas Pendidikan?

Sekolahrumah tunggal dan majemuk menurut Permendikbud 129/2014 wajib mendaftar ke dinas pendidikan kabupaten/kota dan menyertakan program sekolahrumah yang sekurang-kurangnya memuat rencana pembelajaran. Ini berbeda dengan keluarga yang sudah menjadi peserta program kesetaraan di PKBM/SKB dan mengikuti tata kelola satuan pendidikan tersebut.

Apakah Cambridge boleh dipakai?

Boleh digunakan sebagai bahan atau program tambahan. Jika anak mengikuti Paket A/B/C, capaian program kesetaraan tetap perlu dipenuhi. Perhatikan beban belajar agar anak tidak menjalani dua kurikulum penuh tanpa alasan yang jelas.

Apakah Montessori atau Charlotte Mason boleh digunakan?

Boleh sebagai pendekatan belajar. Keluarga tetap perlu menjaga acuan kurikulum nasional sesuai regulasi sekolahrumah serta kebutuhan program kesetaraan jika anak terdaftar di PKBM.

Apakah belajar mandiri di rumah dihitung dalam Paket A/B/C?

Belajar mandiri merupakan salah satu bentuk pembelajaran pendidikan kesetaraan. Pemetaan dan pencatatannya mengikuti sistem satuan pendidikan, sehingga aktivitas rumah tidak otomatis menjadi SKK tanpa tata kelola program.

Apakah portofolio bisa menggantikan rapor?

Tidak otomatis. Portofolio dapat menjadi bahan pendukung proses belajar. Jika anak sudah menjadi peserta satuan pendidikan, rapor tetap merupakan dokumen hasil belajar yang dikelola satuan pendidikan.

Apakah TKA menentukan ijazah?

Tidak. TKA tidak menentukan kelulusan. Kelulusan ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil penilaian yang berlaku.

Apakah kurikulum boleh berubah di tengah jalan?

Boleh menyesuaikan bahan, pendekatan, dan kedalaman pembelajaran. Untuk peserta Paket A/B/C, perubahan perlu tetap menjaga capaian program dan sebaiknya dibicarakan dengan satuan pendidikan agar tidak menimbulkan kesenjangan.

Kesimpulan

Kurikulum homeschooling di Indonesia memiliki ruang fleksibilitas yang luas, namun fleksibilitas itu tetap berada di dalam kerangka regulasi. Permendikbud 129/2014 menyatakan kurikulum sekolahrumah mengacu pada kurikulum nasional dan dapat menggunakan kurikulum formal atau kesetaraan dengan perluasan atau pendalaman sesuai minat, potensi, dan kebutuhan anak.

Di lapangan, keluarga menjalankannya dengan beragam cara: menggunakan kurikulum nasional sebagai tulang punggung, menambahkan Cambridge atau sumber lain, memakai pendekatan Charlotte Mason atau Montessori, menjalankan proyek, hingga memilih pola belajar yang sangat mandiri. Jika keluarga menggunakan Paket A/B/C melalui PKBM atau SKB, struktur kurikulum kesetaraan dan penilaian satuan pendidikan tetap menjadi bagian resmi program.

Pilihan yang paling kuat biasanya bukan kurikulum yang paling mahal atau paling terkenal. Pilihan yang mampu dijalankan keluarga secara konsisten, memenuhi kebutuhan anak, tetap menjaga capaian pendidikan, dan tidak membebani anak dengan terlalu banyak sistem sekaligus akan lebih bertahan dalam jangka panjang.

Sumber Resmi dan Contoh Praktik

Terakhir diperiksa: Agustus 2026.