Saturday, 03 Dec 2022
  • Penerimaan Siswa Baru SMP-SMA Tahun Ajaran 2022-2023, Kontak Admin WA: 0812 1035 6374

Serba-Serbi dan Biaya Homeschooling di Indonesia

Di Indonesia, homeschooling masih identik dengan kata eksklusif sebab hanya kalangan menengah ke atas yang dinilai mampu memilih jenis pendidikan ini dibanding belajar di sekolah konvensional. Secara umum, biaya homeschooling memang cenderung lebih tinggi dibanding sekolah biasa.

Berikut contoh biaya homeschooling di Flexi School yang mengusung sekolah berbasis minat dan bakat secara real dengan pembelajaran berbasis project:

Meskipun begitu, beberapa orang ada yang masih memandang homeschooling dari sebelah mata. Praktik belajar mengajar di rumah tersebut dianggap kurang efektif dalam menstimulasi kemampuan bersosialisasi anak. Padahal, sosialisasi bukan satu-satunya aspek pendidikan yang harus distimulasi.

Sosialisasi pun tidak harus dilakukan di sekolah konvensional. Inilah mengapa meskipun menimbulkan pro kontra, homeschooling masih jadi salah metode pendidikan alternatif untuk anak.

Mengenal Homeschooling

Merupakan salah satu metode pendidikan alternatif, homeschooling adalah praktik belajar di rumah di bawah pengarahan orang tua atau tutor pendamping. Selain di rumah, homeschooling bisa dilakukan di mana saja, kecuali sekolah formal dengan model pembelajaran struktur sebagaimana yang dikenal selama ini.

Ada banyak alasan orang lebih memilih model pembelajaran homeschooling. Di Amerika Serikat, kebanyakan orang tua yang memilih model pembelajaran ini kurang cocok dengan sistem pembelajaran di sekolah konvensional, ingin mengenalkan anak pada pengajaran agama dan moral secara lebih baik lagi, atau memiliki ketakutan akan pengaruh sosial di sekolah terhadap perkembangan anaknya.

Di Amerika Serikat sendiri, prosentase anak yang mendapatkan homeschooling meningkat setiap tahunnya. Model pembelajaran ini memang cukup populer di negeri Paman Sam itu. Terakhir, tercatat lebih dari 20% anak usia 5 – 17 tahun di Amerika Serikat memilih model pembelajaran homeschooling.

Ada banyak hal yang menjadi alasan orang tua dan anak di Amerika Serikat memilih homeschooling, di antaranya:

  • Maraknya peristiwa penembakan massal yang pelakunya adalah murid tertindas di sekolah umum maupun swasta di Amerika Serikat
  • Masih ditemukannya budaya bullying antar siswa atau guru dengan siswa
  • Sistem pendidikan yang tidak cocok dengan prinsip orang tua siswa
  • Tingginya biaya pendidikan di sekolah swasta yang memiliki fasilitas memadai dan berkualitas
  • Banyaknya anak yang memiliki profesi sebagai model, aktris atau aktor, dan profesi lain yang membuat mereka tidak bisa mengikuti pembelajaran di sekolah konvensional seperti anak pada umumnya

Homeschooling di Indonesia

Secara hukum, model pembelajaran homeschooling telah diakui di negara kita. Biasanya, lembaga penyelenggara model pembelajaran ini disebut PKBM atau Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Seperti sekolah formal dan nonformal lainnya, PKBM dipayungi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan.

Aturan tentang homeschooling di Indonesia tertuang di Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 129 Tahun 2014. Menurut Permen tersebut, homeschooling atau sekolah rumah merupakan layanan pendidikan yang secara sadar dan terencana dilakukan orang tua atau keluarga di rumah atau tempat yang kondusif.

Di Indonesia, homeschooling sempat mengalami pergeseran arti. Praktik homeschooling di negara kita melibatkan lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pembelajaran di lembaga tersebut. Jadi konsepnya mirip dengan les tambahan.

Hal ini tentu saja jauh dari fomat homeschooling yang sebenarnya. Padahal, di luar negeri, tidak ada lembaga penyelenggara homeschooling. Kalaupun ada, bentuknya adalah lembaga konsultan atau komunitas homeschooling. Namun, keberadaan lembaga semacam ini di Indonesia juga bukan tanpa alasan.

Negara kita masih menerapkan prasyarat ijazah dari jenjang sebelumnya apabila ingin mendaftar ke sekolah atau perguruan tinggi. Jadi, lembaga homeschooling memang dibutuhkan di negara ini. Selain menyediakan tutor, kurikulum, dan program belajar terstruktur, lembaga juga menyediakan fasilitas uji penyetaraan paket.

Jadi, meskipun tidak belajar di sekolah formal, anak-anak bisa tetap memperoleh ijazah legal yang sah dan bisa digunakan untuk berbagai kepentingan administratif. Meskipun beberapa lembaga mengusung konsep yang berbeda dengan homeschooling di Amerika Serikat, model pembelajaran ini juga cukup diminati masyarakat kita.

Peminat homeschooling di Indonesia tidak terbatas—mulai dari orang biasa hingga publik figur memilih model pembelajaran ini. Beberapa publik figur yang diketahui melalui pendidikan secara homeschooling adalah Nia Ramadhani, Kak Seto, dan Neno Warisman.

Sementara itu, biaya homeschooling di Indonesia cukup bervariasi tergantung lembaga penyelenggara dan kota tempat tinggal kita. Namun, sebelum membahas tentang hal ini, simak dulu ulasan tentang macam-macam model pembelajaran homeschooling.

Macam-Macam Homeschooling

Meskipun secara umum model pembelajaran homeschooling merujuk pada program belajar di rumah, ternyata homeschooling masih diklasifikasikan lagi ke beberapa model. Beberapa model pembelajaran homeschooling  yang perlu diketahui adalah:

1. Model School at Home

Model homeschooling ini menggunakan sistem pembelajaran sekolah konvensional sebagai acuan penyelenggaraan pembelajaran. Materi belajar yang disampaikan, sama dengan yang disampaikan di sekolah formal. Hanya saja pelaksanaannya dimodifikasi sesuai dengan kondisi di rumah.

Ciri khas model pembelajaran ini adalah adanya kurikulum, buku teks, guru atau tutor yang mengajar sesuai mata pelajaran, dan adanya ujian. Model School at Home ini banyak dipakai di Indonesia. Model ini termasuk cocok untuk keluarga yang berencana untuk homeschooling sementara dan ada keinginan untuk mengirim anaknya belajar di sekolah konvensional nantinya.

Inilah mengapa program pembelajaran model ini dirancang sedemikian rupa supaya memudahkan proses transisi apabila jadi melanjutkan di sekolah konvensional nantinya.

2. Model Unschooling

Berbanding terbalik dengan model pembelajaran sebelumnya, Unschooling merupakan model pembelajaran homeschooling yang tidak terstruktur. Model pembelajaran ini terinspirasi dari pemikiran John Holt, seorang tokoh pendidikan yang aktif memberikan kritik terhadap sistem pendidikan di negara asalnya.

Menurut John Holt, pembelajaran bukan produk program belajar mengajar, tetapi hasil yang diperoleh karena giatnya pembelajar untuk mencari ilmu. Jadi, daripada fokus pada struktur dan kurikulum, model Unschooling cenderung mengedepankan proses belajar yang dialami dan dijalani anak.

Inilah mengapa, model Unschooling tidak mengacu pada kurikulum tetapi menggunakan kebutuhan dan kehidupan anak sebagai basis untuk menerapkan kegiatan belajar.

3. Model Classical

Model Classical dirancang berdasarkan pemikiran para filsuf Yunani dan Romawi berabad-abad lalu. Mengembangkan konsep belajar yang dikenal sebagai Trivium, ada tiga urutan proses belajar anak pada model Classical, yaitu, grammar, logic, rhetoric. Jadi, pembelajaran yang dilakukan pun berdasarkan tiga urutan tersebut.

Di negara kita, model Classical termasuk salah satu yang jarang dipraktikkan. Meskipun begitu, di beberapa negara model ini dianggap cukup efektif dalam menyediakan program pembelajaran homeschooling interaktif dan menarik untuk anak.

4. Model Montessori

Model pembelajaran homeschooling ini berdasarkan konsep pendidik yang digagas oleh Maria Montessori, seorang ahli asal Italia. Montessori termasuk salah satu model pembelajaran yang banyak diterapkan oleh praktisi homeschooling dan sekolah konvensional untuk anak usia dini.

Tujuan utama model pembelajaran ini adalah untuk membantu anak mencapai potensi dalam kehidupan. Inilah mengapa pada praktiknya, Montessori mengembangkan kegiatan yang berhubungan dengan kemandirian dan keaktifan. Kegiatan tersebut diwujudkan dalam bentuk permainan menarik, interaktif, dan kolaborattif.

Dalam penerapannya, Montessori tetap berpegang teguh pada prinsip pendidikan yang diusung yaitu; Penghormatan terhadap anak; Pikiran yang terbuka; Periode Sensitif dalam perkembangan; Lingkungan Sesuai Anak; dan Mendidik diri sendiri.

5. Model Charlotte Mason

Sesuai namanya, model pembelajaran ini diselenggarakan berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan yang dikembangkan oleh Charlotte Mason, seorang pakar pendidikan asal Inggris. Ciri utama model pembelajaran Charlotte Mason (CM) adalah penggunaan Living Books sebagai panduan.

Buku tersebut dinilai mampu memicu intelektual dan imajinasi anak sehingga mereka bisa berkembang dengan baik. Model pembelajaran ini juga termasuk salah satu model homeschooling yang diterapkan di Indonesia. Tidak heran apabila kita bisa dengan mudah menemukan komunitas yang dapat membantu kita memahami model pembelajaran CM.

6. Model Waldorf

Model pembelajaran Waldorf berkembang dari pemikiran Rudolf Steiner. Model ini menekankan pendidikan untuk seluruh tubuh, pikiran, dan jiwa anak. Inilah mengapa pada kelas awal, model Waldorf menekankan pada seni dan kerajinan, musik dan gerak, serta aneka kegiatan di alam.

Anak-anak yang belajar dengan model pembelajaran homeschooling Waldorf tidak menggunakan buku teks standar. Anak-anak bahkan membuat buku mereka sendiri dari hasil pembelajaran dan karya yang dibuat selama homeschooling. Ciri khas model Waldorf adalah tidak adanya interaksi anak dengan televisi dan gadget.

7. Model Eclectic

Nama lain dari model pembelajaran ini adalah model pembelajaran gado-gado. Artinya, mereka yang menerapkan model ini mengambil gagasan dari berbagai sumber dan ahli. Model pembelajaran ini akan memadupadankan beberapa model yang dianggap sesuai dan efektif untuk menarik minat belajar anak.

Selain 7 model pembelajaran homeschooling di atas, masih banyak model pembelajaran lain yang diterapkan di lapangan. Mengingat homeschool tidak terikat struktur dan kendali utama ada pada orang tua, sah-sah saja menggunakan model pembelajaran apapun sesuai preferensi selama hasilnya mampu membuat anak berkembang menjadi lebih baik lagi.

Payung Hukum Homeschooling di Indonesia

Selain Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 129 Tahun 2014 yang disebutkan sebelumnya, homeschool di Indonesia dilindungi oleh Undang-Undang supaya penyelengaraannya tetap terkontrol dan mengedepankan kepentingan anak. Adapun payung hukum yang menaungi homeschooling adalah:

  • Pasal 27 Ayat (2) UU Sisdiknas, jis. Pasal 117 PP 17/2010, Pasal 4 aayat (1) Permendikbud 129/2014. Dalam pasal tersebut tertulis bahwa hasil pendidikan homeschooling (informal) setara dengan pendidikan formal dan nonformal melalui uji kesetaraan sesuai standar nasional pendidikan.
  • Pasal 4 ayat (2) Permendikbud 129/2014. Pada pasal ini tertulis bahwa mereka yang memilih homeschooling memiliki hak sama dengan mereka yang mengikuti pendidikan formal maupun nonformal, yaitu mendaftar di satuan pendidikan yang lebih tinggi dan atau memasuki dunia kerja.
  • Pasal 10 – 11 Permendikbud 129/2014. Menurut pasal tersebut, peserta homeschooling dapat diterima di jenjang SD, SMP, SMA pada awal tahun ajaran atau tidak pada awal tahun ajaran.

Mengingat segala hal tentang homeschooling di Indonesia diatur oleh Undang-Undang, supaya bisa menjalankan homeschooling kita harus terdaftar di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Untuk mendaftar, ada beberapa persyaratan yang harus dibawa, yaitu:

  • Identitas anak dan orang tua
  • Surat pernyataan bertanggung jawab melaksanakan pendidikan di rumah dari kedua orang tua
  • Surat pernyataan bersedia melakukan pendidikan homeschooling untuk anak yang telah berusia 13 tahun ke atas
  • Dokumen program homeschooling yang berisi rencana pembelajaran

Biaya Homeschooling

Sebagaimana yang sempat disinggung sebelumnya, biaya homeschooling di Indonesia cukup bervariasi. Bisa dibilang, biaya model pembelajaran ini fleksibel menyesuaikan rancangan pembelajaran yang diprogram oleh orang tua untuk anaknya. Bagi orang tua yang sering melakukan kegiatan homeschool  di luar, biaya yang dibutuhkan mungkin cukup banyak karena ada ongkos transportasi.

Sementara bagi yang menyelenggarakan pembelajaran di rumah atau secara online, biaya yang dikeluarkan tergantung dengan ongkos WiFi dan penggunaan ATK habis pakai. Lain lagi dengan homeschooling yang menggunakan klub atau kursus. Biaya terbesar tergantung dengan biaya kursus yang diikuti.

Biaya homeschool sebenarnya tidak mahal, tidak juga terjangkau. Biaya penyelenggaraan homeschool cenderung mahal apabila:

  • Menggunakan jasa lembaga untuk menyediakan guru, tutor, dan program pembelajaran
  • Membeli materi dan produk pembelajaran impor
  • Banyak melakukan kegiatan belajar outdoor seperti berkunjung ke museum, perpustakaan kota, menaiki kereta api, mengunjungi kebun binatang, taman, dan lain sebagainya
  • Membeli materi belajar berupa buku atau produk digital yang melebihi kebutuhan

Jika ingin biaya homeschool lebih terjangkau, kita bisa melakukan beberapa hal seperti:

  • Menggunakan buku ajar atau materi yang ada di rumah
  • Menggunakan buku bekas 
  • Berbagi sumber belajar dengan orang tua atau praktisi homeschooling lainnya melalui komunitas
  • Menggunakan materi dari internet

Melihat ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa tidak ada istilah mahal atau murah dalam homeschooling. Bahkan jika dibandingkan dengan sekolah konvensional, homeschooling jauh lebih hemat dalam beberapa aspek seperti, tidak ada uang seragam, gedung, biaya pendidikan bulanan, dan biaya pemeliharaan fasilitas sekolah.

Besar kecilnya dana yang dikeluarkan ketika homeschooling sesuai dengan kebutuhan dan fasilitas yang dipakai. Selain dari segi fasilitas dan kebutuhan belajar anak, biaya penyelenggaraan homeschooling juga tergantung kota tempat kita tinggal. Di kota seperti Jakarta, biaya homeschooling bisa berkisar antara Rp1 hingga Rp2 juta per bulan.

Dibanding harga sekolah swasta di kota tersebut, terutama sekolah internasional, biaya homeschool  di Jakarta tentu termasuk terjangkau. Sebaliknya, di daerah kecil yang biaya sekolah swastanya murah karena memanfaatkan bantuan pemerintah, biaya homeschool yang biasanya berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta per bula dianggap cukup mahal.

Kembali lagi, homeschooling adalah tentang fleksibilitas—baik itu dari segi penyelenggraan program pembelajaran ataupun biayanya. Namun bicara hasil, anak yang belajar secara homeschooling juga bisa berprestasi, bahkan memiliki kesempatan untuk menggali potensinya secara maksimal dibanding anak yang bersekolah di lembaga pendidikan konvensional baik formal maupun nonformal.

Prinsip inilah yang diusung oleh Flexi School. Sebagai salah satu PKBM yang ikut menyelenggarakan homeschool di Indonesia, Flexi School menawarkan jasa untuk mendampingi orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di rumah baik secara online maupun offline.

Menawarkan sejumlah fasilitas seperti kurikulum dan silabus, analisis minat bakat, dan uji kesetaraan, PKBM ini memiliki tujuan mempersiapkan anak menjadi pribadi yang cerdas baik secara emosional maupun spiritual dan siap menghadirkan sistem belajar berbasis real life experience.

Jadi, tidak hanya matang secara akademik, anak juga distimulasi untuk bisa cerdas dalam berbagai aspek meskipun pendidikan yang diterima berbasis homeschooling. Bagaimana, tertarik untuk mengikutkan anak pada program pembelajaran homeschooling

Itulah ulasan tentang serba serbi dan biaya homeschooling di Indonesia. Semoga bermanfaat.

KELUAR