Tuesday, 18 Jun 2024
  • Sekolah Pertama Menerapkan Agile Education Berbasis Kurikulum Aqil Baligh dan Fitrah
  • Sekolah Pertama Menerapkan Agile Education Berbasis Kurikulum Aqil Baligh dan Fitrah

Keterampilan Menjadi Entrepreneur Muda Untuk Anak

Jangan membayangkan keterampilan yang harus dimiliki oleh anak dalam melatih menjadi entrepreneur muda untuk anak sama persis seperti kemampuan seseorang yang membuat sebuah perusahaan, lho. Tetapi, ternyata keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha itu sama. Keterampilan dasar ini memang sebaiknya dipupuk sejak kecil, sejak muda, masa anak-anak. Jadi, keterampilan dasar apa saja yang harus dimiliki seorang anak dalam menumbuhkan dan mengembangkan jiwa entrepreneurship di dalamnya? Mari kita simak.

Tentukan Tujuanmu

Seorang anak harus mengerti apa tujuan yang akan dicapai saat melakukan apapun terutama dalam berwirausaha. Ini bisa dilakukan dalam hal-hal kecil sekalipun. Contohnya saat anak harus makan, mereka harus mengetahui untuk apa mereka harus makan. Saat menggambar bersama, ceritakan tujuannya seperti, “Kita akan menggambar ikan”, atau “kita akan menggambar pesawat terbang”. Saat orang tua memberikan petunjuk atau tujuannya, si anak akan membayangkan tujuan tadi. Anak akan membayangkan ikan atau pesawat terbang di dalam pikirannya. Kemudian, matanya akan mengikuti proses menggambar, yang menunjukkan bagaimana sebuah proses menuju tujuan akhir gambar yang dia bayangkan sebelumnya.

Contoh lain saat anak demam dan harus meminum obat penurun panas. Seringkali beberapa anak sangat menghindari meminum obat, biasanya karena rasanya yang pahit. Jangankan meminum obat, untuk minum air putih atau sekedar makan agar perutnya tidak kosong pun tidak dilakukan karena kondisi tubuhnya yang serba salah dan tidak merasa senang melakukan apapun. Kondisi ini juga menjadi ‘siksaan’ bagi anak karena dipaksa melakukan sesuatu yang tidak ia sukai. Terkadang penolakan terjadi karena ketidaktahuan akan sesuatu. Berikan pengertian tujuan meminum obat ini bukan untuk dia, bukan untuk anak, melainkan untuk menyerang kuman-kuman yang ada di dalam tubuhnya yang mengakibatkan demam.

Saat anak mengerti tujuannya, logikanya si anak akan menyimpan informasi ini di dalam ingatannya. Orang tua tidak memaksa anak melakukan sesuatu melainkan memberi pengertian kenapa sesuatu itu harus dilakukan. Saat mereka dapat menerima mengapa suatu hal harus dilakukan, beri mereka informasi lain yang dapat mereka serap untuk kebaikan. Beri mereka pengertian kenapa lantai harus disapu, mengapa tidak boleh membuang sampah di selokan, mengapa kita harus mandi. mengapa kita harus berani, dan sebagainya.

Tapi, Jangan Pernah Menakuti Anak-anak

Seringkali terjadi seorang anak ‘diancam’, ‘ditipu’ atau ditakuti untuk melakukan kewajiban yang sebenarnya untuk kebaikannya. Kejadian yang banyak terjadi misalnya saat anak harus segera tidur dan jangan ribut karena ada penculik anak yang sedang berkeliaran memukul tiang listrik. Ini akan menjadi mimpi buruk bagi anak. Mereka seolah dirusak logikanya, merekam suara tiang listrik dipukul sebagai suatu bahaya padahal hanya petugas keamanan yang sedang berkeliling sebuah daerah.

Logika anak jangan dirusak. Meskipun ada sesuatu yang kurang nyaman untuk disampaikan, sampaikanlah kepada mereka dengan bahasa yang paling sederhana dan bisa dipahami oleh anak-anak. Tanpa disadari, orang tua juga belajar untuk menyampaikan sesuatu dengan jelas dalam kalimat sederhana dan langsung dipahami orang lain.

Gapai Tujuanmu Dengan Berusaha

Setelah menyampaikan bahwa segala sesuatu itu ada tujuannya, Termasuk dalam melatih dan menerapkan Entrepreneurship Education. tahap berikutnya ialah memberi wawasan dan informasi kepada anak-anak bahwa mencapai tujuan itu harus melakukan usaha. Untuk dapat menggambar sebuah pesawat, sebelumnya mereka harus menyiapkan kertas, pensil, juga alat warna. Selain itu mereka harus menentukan kapan dan di mana tempat mereka akan menggambar, apakah di lantai, di meja makan, atau di meja belajar. Ketika mereka menentukan bahwa mereka akan menggambar di atas meja, mereka harus memastikan bahwa meja tersebut tidak sedang dipakai dan tidak ada barang-barang lain yang akan mengganggu proses menggambar. Setidaknya mereka mau tidak mau harus sedikit membereskan meja agar dapat menggambar dengan nyaman. Jika mereka tidak berusaha menyiapkan alat gambar dan tempat untuk menggambarnya, maka tujuan untuk menggambar yang ada di pikirannya tidak akan terwujud. Tujuannya tidak akan tercapai jika mereka tidak berusaha.

Jika kebiasaan berusaha ini sudah tertanam dalam pikiran anak, kembangkan tujuan sederhana tadi menjadi tujuan yang lebih besar, lebih berdampak. Berikan nilai tambah dalam tujuan yang ditentukan. Setiap tujuan pastikan ada gunanya. Saat anak ingin melakukan satu kegiatan, berikan sedikit beban atau tanggung jawab sederhana. Misalkan si anak ingin menggambar di lantai, ajak si anak untuk bersama-sama menyapu lantai agar meminimalisir kotoran yang ada di atas lantai tersebut. Selanjutnya orang tua bisa mengajak juga anak untuk mengepel lantai dengan logika yang dapat dipahami anak. Jadikan kegiatan sederhana tersebut menjadi kegiatan bersama menyenangkan. “Mari kita membunuh kuman dengan mengepel yang lantai ini!”, “Kita serbu bersama!”. Kita berperan seolah-olah kita adalah sekelompok pahlawan super yang sedang berusaha melawan penjahat berupa kuman. Tanpa disadari, kita melakukan proses kreatif dengan cara berimajinasi bersama, sekaligus membuat anak menjalankan kewajibannya menjaga kebersihan dan kesehatannya. Gunakan skenario lain pada saat yang lain agar anak tidak menjadi bosan, sekaligus sama-sama mempertajam kreativitas kita dan anak kita.

Setelah ‘pertempuran singkat melawan kuman, barulah bersama melakukan kegiatan menggambar. “Untunglah kita tadi sudah menumpas kuman yang ada ya, jadi kita bisa menggambar di atas lantai ini dengan aman dan nyaman”, ini salah satu pernyataan kita yang menunjukkan usaha kita yang dilakukan akan membuahkan hasil.

Usaha lain yang bisa dengan jelas menunjukkan hasil misalnya saat menjelang makan siang dan makanan belum tersedia, orang tua dapat mengajak anaknya untuk menyiapkan makanan yang sederhana. Tujuannya agar semua anggota keluarga tidak kelaparan waktu siang ini. Ajak anak untuk terlibat dalam kegiatan menanggulangi kelaparan keluarga ini dengan cara berusaha menyiapkan makanan dan menyajikannya untuk keluarga. Misi yang sangat serius! Kita bisa menentukan misi kita misalnya membuat nasi goreng. Libatkan anak untuk menyiapkan bahan-bahan makanannya, seraya kita menyiapkan peralatan untuk memasak dan menyajikan masakannya. Kita dapat melibatkan anak-anak dengan berbagai pertimbangan keamanan seperti batasan umur, tinggi badan, atau kemampuan si anak. Apakah dia mampu mengambil piring yang mempunyai risiko pecah? apakah anak tersebut mampu menyalakan api di kompor? dan sebagainya. Beri tanggung jawab kepada anak untuk mengerjakan salah satu aktivitas menyiapkan makanan tersebut meskipun sederhana. Dia bisa diberi kepercayaan untuk menata meja, menyiapkan minum, atau untuk umur tertentu bisa membantu memotong atau memasak bahan makanan.

Apapun hasilnya yang dilakukan anak, beri mereka pujian atas tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Mereka akan merasa bangga terlibat dalam misi penting ini, menanggulangi kelaparan pada keluarganya! rasa bangga itu akan menambah kepercayaan diri di dalam jiwa mereka. Di lain kesempatan, mereka akan dengan senang hati ingin terlibat kepada hal lain yang membutuhkan tanggung jawab mereka. Dalam beberapa perusahaan internasional, dikenal satu cara untuk meningkatkan karyawannya yaitu dengan melakukan aktivitas  ‘reward and punishment’ atau ‘hadiah dan hukuman. Konsepnya ialah memberikan hadiah berupa pujian atau pemberian barang jika karyawan berprestasi dan memberikan hukuman jika karyawan tersebut melakukan kesalahan atau tidak memenuhi target yang diberikan oleh perusahaannya. Akibatnya, karyawan terpacu untuk meminimalisir kesalahan dan meningkatkan prestasinya untuk mengejar suatu bentuk hadiah. Efeknya,  kinerja karyawan secara keseluruhan meningkat, dan produktivitas perusahaan pun meningkat.

Hal yang dilakukan perusahaan tersebut yang meningkatnya kemampuan kerja para karyawannya dapat digunakan juga untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan seorang anak. Mereka dapat diiming-imingi’ hadiah jika dapat mencapai prestasi atau dapat melakukan sesuatu dengan baik. Mereka dapat menonton video lebih lama jika nilai pelajaran di sekolahnya mendapat nilai terbaik. Mereka boleh membeli mainan kesukaannya kalau mendapat prestasi terbaik selama satu semester. Sebaliknya, mereka akan ‘dihukum’ tidak boleh bermain selama seminggu saat mendapatkan nilai yang buruk. Seringkali konsep ini dilakukan orang tua kepada anak-anaknya dan membuat anak- anak terpacu untuk tidak melakukan kesalahan yang mengakibatkan prestasi mereka turun, dan memacu mereka untuk mengejar prestasi sebaik mungkin, demi hadiah tentunya. Namun lama kelamaan seiring progress kedewasaan seorang anak, mereka akan berusaha menggapai sebuah prestasi bukan karena ingin mendapatkan hadiah dan menghindari hukuman, melainkan mempunyai tujuan yang lebih besar lagi untuk membuat dampak baik untuk masyarakat yang lebih luas.

Berbicara Di Depan Umum        

Pernahkah kita mengalami perasaan malu saat berbicara di depan umum? Keringat perlahan mengucur, jantung berdegup lebih kencang, tenggorokan terasa kering dan tidak ada sepatah katapun yang bisa keluar dari mulut kita. Perasaan ini biasa terjadi saat kita tidak terbiasa untuk berbicara di depan umum, terutama saat kita berhadapan dengan orang-orang yang tidak kita kenal. Kondisi ini sangat menyiksa perasaan padahal seringkali kita harus menyampaikan informasi yang sangat penting kepada pendengar untuk mengemukakan suatu alternatif solusi dari sebuah masalah yang sedang dihadapi bersama. Akhirnya informasi tersebut tidak tersampaikan hanya karena kita tidak terbiasa menyampaikan suatu informasi di depan umum. Ironis, bukan?

Untuk mencapai sebuah tujuan, senjata yang diperlukan ialah komunikasi. Sebuah komunikasi yang baik ialah komunikasi yang disampaikan dengan baik, dan diterima dengan baik oleh pendengarnya. Saat komunikasi tak dapat dilakukan, maka sebuah informasi tidak dapat disampaikan kepada pihak lain.

Tapi, bagaimana melatih komunikasi kepada anak-anak? Tidak semua anak berani berbicara di depan umum. Seringkali seorang anak bersembunyi di balik orang tuanya karena malu sekedar tampil atau harus berbicara di depan umum. Jika itu terjadi, sebuah informasi sama sekali tidak bisa tersampaikan.

Seorang anak dapat didorong untuk berani berbicara di depan umum dengan durasi pendek, misalnya 2 menit, kemudian dicoba lagi dengan durasi yang lebih panjang dan seterusnya. Lakukan komunikasi sederhana seperti menyampaikan informasi pendek tentang dirinya. Dia dapat menyebutkan namanya dan hobinya di depan umum. Jika memungkinkan, sebutkan informasi pendek lain seperti nama temannya, atau menceritakan tentang satu binatang seperti kucing dan kebiasaannya. Jika sudah mulai terbiasa, berilah dia pertanyaan sederhana untuk memperpanjang durasi berbicara di depan umum. Saat berani berbicara di depan umum, berilah penghargaan berupa pujian atau tepuk tangan untuk membuat kepercayaan diri seorang anak tetap terjaga.

Sebelumnya, kita telah membahas tentang reward and punishment dimana untuk memacu prestasi seseorang, kita dapat menjanjikan sebentuk hadiah. Untuk memacu seorang anak untuk berani berbicara di depan umum, bisa juga dilakukan dengan cara tadi. Jika anak berani berbicara di depan umum, dia akan diberi hadiah. Hadiah yang diberikan disesuaikan dengan prestasi atau pencapaiannya. Semakin banyak dia memberikan informasi yang jelas di depan umum, semakin besar hadiah yang didapatkan. Simpan hadiah terbesar untuk pencapaian yang lebih tinggi. Sebaiknya sebuah hadiah yang diberikan juga dapat memacu seorang anak untuk berbuat kebaikan. Hadiah yang diberikan kepada anak bisa saja berupa mainan edukasi yang banyak beredar di toko mainan.

Menilai Sebuah Produk dan Pelayanan Yang Baik

Setelah mulai berani menyampaikan informasi di depan umum, tentang si anak untuk mengemukakan pendapatnya mengenai sesuatu hal apakah hal tersebut baik atau tidak. Sebagai contoh anak bisa diajak menilai apakah perbuatan melayani orang di fasilitas umum sudah baik atau belum. Banyak fasilitas umum yang pelayanannya tidak terlalu baik. Bukan karena peraturannya yang tidak ada, melainkan oknum pegawai yang tidak menjalankan aturan-aturan tersebut dengan baik. Beberapa kejadian yang disadari oleh konsumen yang sebenarnya merupakan pelayanan yang kurang baik oleh petugas pelayanan umum. Ini sangat dibutuhkan dalam melatih entrepreneurship.

Di sebuah SPBU, petugas mengisi bahan bakar ke mobil konsumen sambil berbincang dengan rekan kerjanya. Ini menunjukkan fokus yang bukan kepada konsumen, tetapi terbagi kepada urusan pribadi. Di sebuah toko pakaian, pegawai terlihat mengobrol satu sama lain saat calon konsumen melihat-lihat pakaian yang dipajang. Ini juga bukan pelayanan yang baik. Ajak anak-anak melihat kejadian ini dan menyampaikan penilaiannya kepada kita apakah itu merupakan biarkan pelayanan yang baik atau buruk? Jika itu adalah sebuah pelayanan yang buruk, bagaimana seharusnya pelayanan yang baik? Ajak anak tersebut berdiskusi dan menyampaikan pendapatnya. Bicarakan bagaimana cara yang benar memperlakukan konsumen, bagaimana menghadapi orang, dan bagaimana menyajikan produk yang baik. Tanpa disadari, anak tersebut telah belajar salah satu entrepreneurship yaitu belajar menjaga hubungan dan perlakuan baik dengan konsumen.

Berkompetisi

Saat seorang anak belajar untuk memperlakukan konsumen lebih baik daripada yang lain, hal ini berhubungan dengan jiwa entrepreneurship yang lain yaitu berjiwa kompetitif. Pelayanan atau produk yang disajikan lebih baik akan lebih disukai oleh konsumen dibandingkan dengan pelayanan atau produk yang kurang baik atau buruk. Konsumen tidak suka pelayanan buruk dan akan mencari pelayanan lain yang lebih baik di tempat lain.

Saat ini orang-orang lebih suka membeli barang keperluan sehari-hari seperti makanan kecil, kebutuhan mandi, kebutuhan masakan, atau perawatan diri ke mini market tertentu yang sudah tersebar di seluruh negeri dibandingkan berbelanja di warung-warung atau kios-kios tradisional yang sudah ada sebelumnya yang tersebar ke seluruh pelosok. Kini warung tradisional tersebut mulai ditinggalkan konsumennya. Mengapa? Padahal warung- warung tradisional ini menyajikan produk-produk sejenis dengan produk yang ada di mini market. Mini market menyediakan hal-hal yang tidak ada di warung tradisional: ruangan bersih dan ber AC, penempatan display produk yang tersusun rapi dan mudah dicari, layout rak barang berdasarkan kategori kebutuhan pokok konsumen, fasilitas tambahan seperti pesan antar online, fasilitas umum seperti toilet, ATM, loket pembayaran listrik, telepon, PAM, hingga isi ulang pulsa telepon seluler, dan layanan petugas berseragam rapi yang senantiasa menyambut semua konsumennya yang baru datang di minimarket tersebut.

Tidak mungkin warung tradisional dapat bersaing dengan minimarket dengan jangkauan dan standar nasional tersebut. Manajemen yang dijalankan pun sesuai dengan standar nasional dan diatur oleh perusahaan nasional skala besar dengan modal yang besar pula tentunya. Ini semua dilakukan demi bersaing atau berkompetisi dengan warung tradisional yang terlebih dulu ada. Kompetisi akan dimenangkan oleh yang terbaik.

Tunjukkan kepada anak-anak bahwa minimarket kini memenangkan pertempuran mengambil hati konsumennya. Minta mereka mengidentifikasikan hal apa saja yang menjadi keunggulan minimarket dibandingkan dengan warung tradisional. Beri pernyataan kesimpulan kepada si anak, jika mereka ingin memenangkan kompetisi melawan kompetitor, berikan produk atau layanan yang lebih baik kepada konsumen atau calon konsumen.

Jika ada lebih dari satu anak, buatlah semacam simulasi bagaimana memenangkan hati konsumen melalui produk dan pelayanan mereka. Buat mereka bersaing memberikan yang terbaik dari mereka, dengan cara mereka. Jangan batasi cara- cara yang mereka lakukan selama itu baik dan tidak melakukan kecurangan atau bersaing tidak sehat. Tunjukkan juga bagaimana sebuah persaingan yang tidak sehat dapat merugikan tidak hanya konsumen tapi juga merugikan mereka untuk waktu yang panjang.

Buatlah persaingan menjadi sedikit lebih seru dengan menambahkan hadiah atau reward bagi mereka yang berhasil meyakinkan calon konsumen untuk membeli produk mereka atau paling tertarik dengan pelayan mereka. Mereka akan belajar berkompetisi dan melakukan kreativitas tahap awal dalam melakukan transaksi sederhana. Untuk membangkitkan semangat dan percaya diri mereka, jangan berikan hukuman bagi yang kalah dalam kompetisi namun berikan juga hadiah yang nilainya lebih kecil daripada hadiah yang didapat oleh pemenang kompetisi.

Ledakkan Kreativitasmu!

Kita telah membahas bagaimana belajar berkomunikasi, belajar menjadi entrepreneur muda, belajar mengemukakan pendapat, dan belajar berkompetisi dengan berbuat lebih baik daripada kita. Bagaimana jika kompetitor kita juga melakukan hal yang sama dengan kita? Bagaimana bisa kita melampaui prestasi mereka? Bukankah kita harus memenangkan kompetisi ini? Keluarkan senjata rahasiamu: kreativitas!

Berpikir kreatif merupakan hal yang wajib dimiliki oleh seorang entrepreneur. Berpikir kreatif identik dengan berpikir berbeda dengan yang lain – dalam hal positif, tentunya. Menjadi orang yang berbeda diantara yang lain merupakan sebuah keuntungan karena kita akan cepat dikenali dan saat kita dikenali, kita akan dapat lebih mudah berkomunikasi, menyampaikan pendapat, bahkan menawarkan ide, produk, dan layanan kepada orang lain. Berpikirlah dan bertindak beda mempercepat proses tadi sehingga proses berkompetisi dengan orang lain bisa dilalui dengan lebih cepat.

Mengapa kita sebaiknya tidak sama dengan orang lain?

Saat kita berpikir dan mengerjakan suatu hal yang sama dengan orang lain, kita akan menjadi sama dengan orang lain, tidak ada hal yang membedakan kita dengan orang lain. Jadi, apa kelebihan kita? Konsumen akan sulit membedakan kita dengan kompetitor kita. Ini mengakibatkan kita tidak punya ciri khas yang mengakibatkan konsumen bingung sehingga mereka tidak akan mengingat kita dan berpeluang untuk beralih memakai produk dan layanan serupa dari kompetitor kita.

Ajak seorang anak bercerita tentang satu topik sederhana yang sama dengan topik yang sudah diceritakan oleh temanya. Minta anak tersebut menceritakan dengan cara yang berbeda. meskipun topiknya sama. Hal ini akan menjadi lebih seru saat peserta lebih banyak, mereka bergantian bercerita tentang topik yang sama tapi dengan penyampaian yang berbeda. Jangan batasi caranya dan kita akan melihat di antara mereka, siapa yang akan dapat bertahan dan siapa yang akan menyerah.

Mengatasi Masalah dan Memberi Keputusan

Tingkatkan bentuk dan taraf permainannya menjadi permainan transaksi, yaitu mencoba menjual suatu produk sederhana yang sama, namun caranya tidak boleh sama dengan cara yang digunakan temannya. Mereka akan sedikit tertekan dan bingung, tapi jika mereka bisa menghadapinya dengan baik mereka dapat membuktikan bahwa mereka mampu mengatasi masalah. Satu lagi sebuah jiwa entrepreneurship akan mereka pelajari. Mereka harus mengatasi masalah dengan cara kreatif dan berbeda, untuk mencapai satu tujuan yaitu menjual barang atau bertransaksi dengan konsumen. Sekali lagi, untuk memacu prestasi anak jika diperlukan dapat digunakan cara pemberian hadiah dan hukuman yang telah kita bahas sebelumnya.

Orang tua berperan sebagai pendamping saat anak mencoba untuk mengatasi masalahnya. Terkadang orang tua dapat memberikan sedikit petunjuk bagaimana alternatif solusi atas masalah yang dihadapi. Beberapa alternatif dapat diajukan, namun keputusan tetap ada di tangan anak. Berikan apresiasi atas keberanian si anak dalam memutuskan solusi apa yang diambil untuk memecahkan masalah tersebut. Bukan hanya pada anak, membuat keputusan yang dianggap tepat merupakan kesulitan yang banyak dihadapi oleh orang dewasa. Latihan yang dilakukan sejak anak-anak dan terus diasah membuat otak kita lebih tajam logikanya dan lebih peka instingnya. Insting dalam bisnis akan sangat diperlukan saat logika tak bisa menjawabnya.

Nah, kini bagaimana kita melatih insting?

Insting dalam bisnis tidak dapat dipelajari begitu saja. Diperlukan waktu dan aktivitas berulang yang menjadikan insting kita menjadi tajam dan lebih tajam lagi. Seringkali kita harus menghadapi banyak kegagalan sebelum menemukan keberhasilan. Namun, akankah kita mencapai keberhasilan jika saat kita gagal lalu kita menyerah? tentu saja kita tidak akan berhasil jika diri kita mudah menyerah. Seorang entrepreneur yang berkali-kali gagal dan tidak menyerah selalu akan menjadi lebih kuat setelah melewati kegagalan tersebut. Setelah menjadi kuat, biasanya ia akan menemukan cara lain lagi untuk menggapai keberhasilan karena entrepreneur sejati mempunyai sifat tidak menyerah dalam mencari jalan keluar.

Dukungan dari lingkungan sekitar akan sangat membantu anak menjadi sumber kekuatan seseorang untuk tetap bertahan dan tidak menyerah dalam keadaan apapun. Seorang anak tidak akan mudah menyerah jika orang tuanya selalu menyemangati, memberi dorongan, dan memberi penghargaan berupa pujian atau hadiah saat anak tersebut mencapai suatu tujuan. Saat menemui kegagalan peran orang tua juga sangat penting agar jiwa anak tidak rentan dan rapuh. Berikan pengertian bahwa gagal adalah tidak mengapa, dan kita sangat bangga kepada mereka karena mereka sudah berusaha keras menghadapinya. Akan salah jika kita menghadapi masalah dan gagal, saat kita sama sekali tidak berusaha.

Usaha adalah penting, keterampilan yang jadi senjatanya. Dukungan menjadi pelindungnya, dan jiwa pantang menyerah adalah pelindung saat kita jatuh dan gagal.

Sumber: Buku Child Preneurship

Another Article

By : Flexi School Bintaro

Apakah PKBM Termasuk Sekolah?

This article have

0 Comment

Leave a Comment